Laman

FOLLOWER

Minggu, 03 Juni 2012

MAKALAH DIKSI, BAHASA INDONESIA


MAKALAH DIKSI,
 BAHASA INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai dengan bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga penggunaan bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas suatu masyarakat tersebut. Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa terlepas dari berkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas. Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai ketika seseorang berkomunikasi dengan pihak lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan menangkap informasi dikarenakan pemilihan kata yang kurang tepat ataupun dikarenakan salah paham.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis  pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam segi makna dan relasi, gaya bahasa, ungkapan, jargon, kata slang, kata kajian, kata popular, kata sapaan dan kata serapan.
B.     Rumusan Masalah
Bagaimana penjelasan mengenai diksi?
C.    Batasan Masalah
1.    Apa pengertian dari diksi?
2.    Apa saja syarat ketepatan diksi?
3.    Makna kata dan relasi kata
4.    Perubahan makna
5.    Gaya bahasa
6.    Apa saja syarat-syarat diksi?
7.    Kata sapaan




















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Diksi
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Sedangkan menurut Wikipedia pengertian diksi adalah sebagai berikut:
1.    Diksi merupakan pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara.
2.    Diksi merupakan seni berbicara yang  jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami. Pengertian ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Diksi dapat pula diartikan pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam karang mengarang (Kridalaksana, 1982: 35). Diksi bukan hanya berarti pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.
Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu.

B.     Syarat Ketepatan Diksi
Syarat Ketepatan Diksi yaitu kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepat lah yang diperlukan.
            Berikut merupakan syarat-syarat ketepatan diksi:
1)   Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi
2)  Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim
3)  Membedakan kata-kata dalam ejaannya
4)  Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri
5)  Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing
6)  Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis.­­­

C.      Kesesuaian Diksi
1.    Syarat-syarat kesesuaian diksi
Adapun Syarat-syaratnya adalah:
·     Hindari sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi formal.
·      Gunakan kata ilmiah hanyadalam situasi khusus saja
·      Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum
·      Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari kata-kata slang
·      Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.
·      Hindarilah  ungkapan-ungkapan usang
·      Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial
2.    Kata ilmiah dan kata popular
            Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan    kedalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum pelajar dalam berkomunikasi maupun dalam tulisan-tulisan ilmiah seperti karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis, desertasi. Selain itu digunakan pada acara-acara resmi.
            Kata popular adalah kata yang biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat umum. Misalnya : Dalam kata ilmiah kontradiksi sedangkan dalam kata popular pertentangan.


3.    Jargon
Jargon adalah kata kata yang mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Contohnya: Udah ujan, becek, gak ada ojek.
4.    Kata slang
Kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Contoh Slang : asoy, manatahan.

D.      Makna Kata dan Relasi Kata
       Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yg tidak selalu berdiri sendiri.
Adapun makna kata terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
1.    Makna Denotatif dan Konotatif
            Makna denotatif adalah makna yang lugas yang menyampaikan sesuatu secara faktual. Makna denotative tidak akan mengalami perubahan makna. Makna konotatif adalah makna yang bukan sebenarnya, yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
       Makna konotatif selalu berubah dari zaman ke zaman. Contoh: Kata kurus pd contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tdk memiliki nilai rasa yg mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dg kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yg mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
2.     Makna Umum dan Makna Khusus
            Kata umum adalah kata yang cakupannya lebih luas. Kata khusus adalah kata yang    memiliki cakupan yang  lebih sempit atau khusus. Misalnya bunga termasuk kata umum, sedangkan kata khusus dari bunga adalah mawar, melati , anggrek.
3.    Makna Leksikal dan makna Gramatikal
            Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera atau  makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan.
Contoh: Kata nyamuk, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit.
       Makna Gramatikal adalah untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan pengulangan kata, seperti kata: meja yg bermakna “sebuah buku,” menjadi meja-meja  yang bermakna “‘ banyak meja.”
4.    Makna Peribahasa
       Makna pribahasa adalah makna yang bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan.
Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dl peribahasa.
5.    Makna Kias dan Lugas
       Makna kias adalah kataataupun kalimat yg tidak mengandung  arti yang sebenarnya. Contoh: raja siang, bermakna mathari.
6.    Kata Konkrit dan Kata Abstrak
     Kata konkrit adalah kata yang dapat diserap oleh panca indra. Misalnya meja, air, dan suara. Sedangkan kata abstrak adalah kata yang sulit diserap oleh panca indra. Misalnya kemerdekaan, kebebasan.

     Adapun relasi makna terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
a.    Kesamaan Makna (Sinonim)
     Sinonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang sama, tapi  bentuknya berlainan. Contoh: mati dan wafat.
b.    Kebalikan Makna (Antonim)
     Antonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang berbeda atau dianggap kebalikan dari makna. Contoh: kata luas berantonim dengan kata sempit.
c.    Ketercakupan Makna (Hiponim)
        Hiponim adalah sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan.
Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.
d.   Kelebihan Makna (Redundansi)
Redundansi dapat diartikan sebagai kalimat yang berlebih-lebihan yang sebenarnya tidak perlu dicantumkan.Contoh : Buku dibawa Clara, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan buku dibawa oleh Clara. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai suatu yang redundansi, yang berlebih- lebihan, dan sebenarnya tidak perlu.

E.       Perubahan Makna
Macam-macam perubahan makna:
1.  Perluasan arti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang lebih umum.
2.  Penyempitan arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.
3.  Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama.
4.  Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makna sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.

F.       Gaya Bahasa
                   Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Ø Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodic.
Ø Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur.
Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu.
Ø Antithesis
adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
Ø Repetisi
Adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Ø Erotesis atau pertanyaan retoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Ø Sinekdoke
Adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figurative, yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
Ø Eufimisme
Eufimisme adalah ungkapan yang halus untuk menggantikan kata-kata yang dirasakan menghina ataupun menyinggung perasaan.
Anak Anda memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. (=bodoh)
Ø Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal.
Hatiku tercabik-cabik, ketika kau mengakhiri hubungan kita.


Ø Metafora
Gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal secara implicit. Contohnya Banyak mahasiswa yang mencoba memperebutkan mawar fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu. Pada kalimat di atas, kata mawar digunakan untuk menyebut gadis. Ini berarti, keduanya diperbandingkan. Komponen makna penyama: cantik/indah, segar, harum, berduri, cepat layu. Komponen makna pembeda: untuk “gadis” adalah manusia, berjenis wanita, untuk “mawar” adalah bagian dari tanaman.
Ø Personifikasi
 Adalah gaya bahasa  yang menampilkan binatang, tanaman, atau benda sebagai manusia. Contoh: melambai-lambai nyiur di pantai.
Ø Sarkasme
Sindiran langsung dan kasar.kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar.
Ø Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Ø Litotes
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Contohnya Rumah yang buruk inilah yang merupakanhasilusaha kami bertahun-tahun lamanya.
Ø Pleonasme
Disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan yang jika dihilangkan, artinya tetap utuh. Contohnya Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri. Ungkapan di atas adalah pleonasme karena semua kata tersebut memiliki makna yang sama, walaupun dihilangkan kata-kata: dengan telinga saya,

G.      Kata Sapaan
            Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga.
Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan:
1.    Nama diri seperti Toto, Nur.
2.    Kata yag tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi.
3.    Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, professor, dokter.
4.    Kata nama, seprti tuan, nyonya, sayang.
5.    Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, atau hadirin.
6.    Kata ganti persona kedua Anda.
            Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat istiadat setempat, adat     kesantunan serta situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun yang perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital.














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
     Dari uraian yang telah dipaparka didepan, maka kami mengambil kesimpulan sebagai berikut:
       Diksi adalah pilihan kata yang tepat untuk mengemukakan gagasan sehingga diperoleh efek yang diharapkan. Diksi merupakan faktor yang penting dalam berkomunikasi, yang digunakan agar tidak terjadi kesulitan dalam memahami informasi.
       Diksi tidak hanya digunakan dalam bahasa lisan saja namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik), Adapun penggunaaan dari diksi digunakan dalam makna kata dan relasi makna, gaya bahasa, jargon dan kata slang, juga kata sapaan.
B.     Saran
Harapan kami agar masyarakat dapat memahami dan menerapkan diksi (pilihan kata) dalam aktivitasnya.














DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia, Jakarta, 1985.

Adi, Tri, Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, CV Andi Offset, Yogyakarta, 2007.
Sugono, Dendy, Buku Praktis Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa,Jakarta, 2003.
Moeliono, Anton, Santun bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1991.
http://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&q=pilihan+kata+dalam+ bahasa+indonesia&star=10
Sugono, Dendy, Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar, Gramedia, Jakarta, 2009.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar